Seperti Apa Tata Cara Pemakaman di Jepang? Ini Yang Kamu Harus Tahu!

Di Indonesia, kita mengenal dengan memakai keranda atau peti. Jenazah akan dimandikan lalu dikubur di liang lahat. Namun bagaimana dengan Jepang yang tentu memiliki tata cara pemakaman yang berbeda? 

Di Jepang, menurut data statistik, lebih banyak jenazah yang dikremasi ketimbang melalui prosesi penguburan. Tata cara menghadiri prosesi pemakaman sendiri tidak sembarangan dimana para tamu diharuskan memakai setelan serba hitam : untuk pria memakai jas hitam dan kemeja putih sementara untuk wanita memakai dress atau kimono hitam. Tidak diijinkan memakai riasan berlebihan untuk upacara pemakaman. 

PPI Jepang atau Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang adalah organisasi yang beranggotakan pelajar Indonesia yang tengah menuntut ilmu di Jepang. Dan GATE adalah mitra resmi dari PPI Jepang. PPI Jepang mendukung GATE sebagai pintu untuk lebih mempererat jalinan persahabatan antara Jepang-Indonesia. Info lebih lanjut: http://ppijepang.org/index.php

Upacara sendiri melalui beberapa tahap. Pertama adalah Otsuya yaitu bagian awal upacara dimana seluruh keluarga dan kerabat mendiang berkumpul untuk mempersembahkan dupa dan memberikan penghormatan terakhir. Namun setelahnya adalah Kokubetsushiki, yang sering disebut sebagai “upacara sesungguhnya” dilakukan setelah upacara Otsuya selesai. Walau terlihat sama, namun pada upacara inilah jenazah mendapat nama baru sesuai kepercayaan Buddha yang tentunya ditulis dalam huruf kanji. 

Tahap paling terakhir adalah proses kremasi yang hanya disaksikan oleh keluarga dekat dari mendiang tersebut. Cara kremasi banyak dipilih masyarakat Jepang selain karena mengikuti aliran kepercayaan juga karena alasan lingkungan dan sulitnya mendapat letak daerah pemakaman. Setelah upacara kremasi selesai, ada sebuah tradisi dimana keluarga dekat dari mendiang tersebut akan mengambil sisa-sisa tulang jenazah dan memasukkannya ke guci dengan menggunakan sumpit. Tidak boleh sembarangan karena cara pengambilannya dimulai dari tulang-tulang di kaki sampai tulang kepala.

 

Juga dikenal istilah-istilah lain dalam tata cara pemakaman seperti Okoden atau uang duka. Biasanya diberikan oleh tamu atau pelayat kepada keluarga mendiang dengan maksud untuk membantu meringankan biaya hidup keluarga tersebut. Ada juga istilah Nokanshi atau seseorang yang memiliki jasa profesional mempersiapkan jenazah dimakamkan. Pekerjaan inilah yang pernah diperlihatkan dalam film Departures (2008) yang juga meraih piala Oscar sebagai Film Asing Terbaik.

Jadi bisa dibilang, tata cara tidak sesederhana yang kita kira. Terkadang juga tata cara pemakaman yang bertahap membuat beberapa kelas di masyarakat Jepang merasa tidak sanggup menanggung biayanya, terutama kelas bawah. Namun karena sudah menjadi bagian dari tradisi, setiap bagian dari upacara ini terus dipertahankan demi penghormatan terakhir bagi yang meninggal.

Tokyo, Tokyo, Japan

Leave a Reply

%d bloggers like this: