Kifune Jinja: Kuil Bersejarah Untuk Dewa-Dewi Air

Kifune Jinja atau Kuil Kifune, adalah kuil yang terletak di lembah utara pusat kota . Kuil ini dibangun sekitar 1500 tahun yang lalu, sehingga kuil ini usianya lebih tua daripada kota . Menurut legenda, Dewi Tamayori Hime-no-Mikoto berlayar dari Teluk Osaka menuju Sungai Yodogawa dan Kamogawa sampai ke Kibunegawa. Tempat sang dewi melabuhkan perahu kuningnya adalah kuil ini, yang menjadi asal nama Kifune Jinja yang bermakna ki untuk kuning dan fune yang berarti perahu.

Karena sumber airnya yang sangat penting untuk penduduk yang tinggal di hilir sungai, kuil ini memuja para dewa-dewi air yang bernama Takaokami-no-kami dan Kuraokami-no-kami. Orang-orang berdoa pada mereka untuk memohon agar hujan deras yang menyebabkan banjir cepat berhenti serta memohon hujan saat musim kering.

PPI Jepang atau Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang adalah organisasi yang beranggotakan pelajar Indonesia yang tengah menuntut ilmu di Jepang. Dan GATE adalah mitra resmi dari PPI Jepang. PPI Jepang mendukung GATE sebagai pintu untuk lebih mempererat jalinan persahabatan antara Jepang-Indonesia. Info lebih lanjut: http://ppijepang.org/index.php

Akses untuk mencapai Kuil Kifune cukup mudah. Bisa dengan taksi atau mobil, berjalan kaki melalui jalur pendakian gunung dari Kurama, atau menaiki kereta dari Stasiun Kibuneguchi lalu transit dengan bus. Apapun pilihan transportasi minna-san, minna-san harus sampai ke Okunomiya lalu berjalan kembali lagi dengan santai di sepanjang pinggiran sungai. Okunomiya adalah lokasi pertama tempat Kifune Jinja dibangun, namun direlokasi setelah musibah banjir pada tahun 1045. Meski begitu, sebagian konstruksi bangunan masih tersisa dan juga masih menjadi tempat suci kuil.

Oh ya, buat minna-san yang datang membawa pasangan, pastikan untuk berkunjung ke Nakamiya, yang merupakan kuil pusat yang memuja dewa-dewi pernikahan. Pasangan yang ingin menikah biasanya datang kemari untuk membeli kertas hijau suci. Di kertas ini, pasangan menuliskan nama mereka sebelum berdoa dan mengikat kertas mereka di pagar yang telah disediakan agar para dewa dapat memberkati hubungan dan mengabulkan doa mereka.

Kuil utama terletak di pusat kota. Di sana terdapat beberapa patung kuda. Menurut legenda, kuda hitam dikorbankan di sini pada saat musim kering, sedangkan kuda putih dikorbankan pada saat musim banjir. Sebagai pengganti kuda, minna-san dapat membeli ema, lempingan kayu kecil bergambar kuda yang saat ini didesain oleh pihak kuil. Di lempingan ini, minna-san dapat menulis permintaan lalu menggantungkannya agar terkabul.

Di dekat kuil utama, terdapat mata air suci yang mengalir dari dinding batu. Minna-san dapat membeli secarik kertas ramalan keberuntungan yang harus diapungkan di atas mata air agar minna-san bisa melihat isi ramalan minna-san.

Bagaimana, minna-san? Seru sekali, bukan? Apabila minna-san ingin berwisata ke Kyoto, pastikan untuk memasukkan Kifune Jinja ke dalam daftar tur wisata minna-san!

Leave a Reply

%d bloggers like this: