Festival Setsubun, Festival Mengusir Roh Jahat

Salah satu festival teraneh di , , adalah dengan melemparkan biji kacang bakar. Festival ini dirayakan pada tanggal 3 atau 4 –sehari sebelum tibanya musim semi di Jepang– saat Haru Matsuri (Festival Musim Semi). Walaupun Festival Setsubun dirayakan secara luas di Jepang, tapi festival ini bukan termasuk hari libur nasional. Meski demikian, masyarakat Jepang tetap berduyun-duyun berkumpul di kuil Budha dan Sinto untuk mengambil dan melempar kacang.

Setsubun secara literal berarti “pembagian musiman”, tapi biasanya mengacu kepada hari sebelum musim semi, yang biasanya dikenal dengan nama Risshun. Festival Setsubun modern telah berevolusi menjadi acara televisi dengan penampilan dari para pesumo dan berbagai seleb nasional lainnya. Permen, amplop berisi uang, dan hadiah-hadiah kecil juga ikut dilemparkan untuk memikat hiruk-pikuk kerumunan yang beradu kecepatan dan saling mendorong untuk mengambil hadiah!

PPI Jepang atau Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang adalah organisasi yang beranggotakan pelajar Indonesia yang tengah menuntut ilmu di Jepang. Dan GATE adalah mitra resmi dari PPI Jepang. PPI Jepang mendukung GATE sebagai pintu untuk lebih mempererat jalinan persahabatan antara Jepang-Indonesia. Info lebih lanjut: http://ppijepang.org/index.php

 

Melempar Kacang Kedelai

Festival Setsubun dilakukan dengan melempar kacang yang disebut juga mame maki, diiringi oleh teriakan dan nyanyian pendek “oni wa soto!” (Pergilah kau setan!) dan “fuku wa uchi!” (Datanglah wahai kebahagiaan!). Kacang-kacang tersebut berguna untuk mengusir roh-roh gentayangan agar mereka tidak memasuki rumah dan membuat masalah.

Setelah melemparkan fuku mame atau “kacang keberuntungan”, orang-orang memakan butiran kacang yang dilempar sesuai dengan umur masing-masing. Kalau usia mina-san 21 tahun, maka mina-san harus makan 21 buah kacang. Terkadang, orang Jepang menggunakan kacang yang sudah dibalut gula agar lebih manis. 😀

Merayakan Setsubun di rumah? Biasanya, kepala keluarga akan memainkan ‘si siluman’ dengan mengenakan topeng dan berdiri di depan jendela yang terbuka. Anggota keluarga lainnya berteriak dan melempar segudang biji kacang kedelai dan kacang kepadanya sampai semua sepakat bahwa jumlah itu sudah cukup.

 

Tradisi Setsubun Lainnya

Walaupun tidak selazim melempar kacang, beberapa keluarga masih melestarikan tradisi yaikagashi, yaitu menggantungkan kepala sarden dan daun-daun suci di atas pintu/jalan masuk. Tujuannya sama, yaitu untuk menjauhkan roh-roh yang tidak diinginkan.

festival setsubunTerkadang, orang Jepang juga makan sushi roll eho-maki selama  Setsubun untuk membawa keberuntungan, sedangkan sake jahe panas diminum untuk tujuan kesehatan. Bagi keluarga yang lebih taat tradisi, biasanya mereka akan makan tanpa bersuara, sambil menghadap ke arah yang mereka percayai sebagai tempat datangnya keberuntungan tahun baru.

Tradisi yang lebih kuno mencakup puasa, ritual religius tambahan, dan bahkan membawa masuk peralatan ke dalam rumah untuk mencegah roh-roh membuatnya berkarat.

Karena dirayakan sebelum Lunar New Year (tahun baru China), festival Setsubun pernah dianggap sebagai bentuk lain dari malam tahun baru. Memang, setsubun diperkenalkan di Jepang sebagai tsuina oleh orang-orang China pada abad ke-8. Tapi masyarakat Jepang sudah merayakan berbagai macam Setsubun sejak tahun 1300-an, dan festival ini sudah menjadi bagian yang kental dalam tradisi dan kebudayaan Jepang.

Leave a Reply

%d bloggers like this: