Awalnya, Takoyaki Isinya Bukan Gurita

Sekitar tahun 1912 hinga 1920an, di mulai muncul trend makanan baru yang kini kita kenal dengan . Namun, pada awalnya isinya bukan Tako (Gurita) loh. Taukah minasan, dulu isinya apa?

Pada jaman itu, makanan ini dikenal dengan sebutan choboyaki, dan isinya ternyata adalah konnyaku. Dari konnyaku bagaimana bisa berubah menjadi gurita? Ini dia ceritanya.

PPI Jepang atau Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang adalah organisasi yang beranggotakan pelajar Indonesia yang tengah menuntut ilmu di Jepang. Dan GATE adalah mitra resmi dari PPI Jepang. PPI Jepang mendukung GATE sebagai pintu untuk lebih mempererat jalinan persahabatan antara Jepang-Indonesia. Info lebih lanjut: http://ppijepang.org/index.php

TakoyakiDahulu kala, choboyaki mulai diganti-ganti isinya dengan urat sapi, sengkel, dan bagian-bagian daging yang murah lainnya. Choboyaki pun mulai berganti nama menjadi Rajioyaki karena bentuknya yang bulat-bulat kecil seperti tombol radio (dalam bahasa Jepang, Radio disebut Rajio). Isinya, masih seputar daging sapi.

Hingga akhirnya pada tahun 1930an, terinspirasi oleh panganan bernama Akashiyaki yang berisikan tako (gurita), dimulai pula lah trend takoyaki berisikan tako (gurita). Trend ini menyebar hingga daerah Kanto, dan Tokyo pun ikut terkena “demam tako” pada pertengahan tahun 1990an. Trend pembuatan makanan kecil ini pun semakin meluas bahkan hingga ke luar negri.

Snack berbentuk bulat yang kita kenal saat ini di Indonesia pun isinya sudah bukan lagi daging sapi, sengkel, maupun urat, tapi potongan gurita. Terkadang, minna-san bahkan bisa request untuk ditambahkan keju ke dalam pesanan minna-san. Kalau menurut kesukaan minasan, takoyaki isinya apa?

 

takoyaki

Tapi kalau isi takoyaki sampai hari ini masih konnyaku, minna-san kira-kira berminat tidak sih untuk mencicipinya? Atau, pernahkah minna-san melihat takoyaki yang isinya bukan potongan tako (gurita)? Yuk ceritakan di kolom komentar ^^

Leave a Reply

%d bloggers like this: